Selamat datang di website resmi BPUN Pati "Student Today Leader Tomorrow"

BPUN Pati 2016

Tim BPUN Pati

Audiensi Bersama Bapak Bupati Pati

BPUN Expo Campus 2016

Foto Bersama Juara Lomba Esai BPUN High School Fair 2016

MIMPI SI ANAK IKAN

MIMPI SI ANAK IKAN



Awalnya saya tidak pernah berpikir untuk bisa duduk di bangku perguruan tinggi. Tak terbersit di pikiran saya kala saya masih kecil, bahwa saya bisa merasakan pendidikan di perguruan tinggi nantinya. Serasa dulunya itu sangatlah mustahil bagi saya. Hal itu karena saya sadar bahwa orangtua saya tak akan mampu membiayai saya untuk kuliah.
Bahkan bagi saya, bisa duduk di bangku SMA itupun sudah suatu yang sangat luar biasa.  Namun ternyata Allah berkendak lain, Dia meletakkan saya di bangku perguruan tinggi untuk bisa ikut merasakan luasnya pengetahuan lewat perkuliahan. Saya bisa kuliah karena adanya beasiswa yang diberikan Allah untuk saya.
Mungkin ceritanya berawal dari SMA, kala saya mulai dikenalkan oleh guru saya tentang berbagai perguruan tinggi. Cerita-cerita tentang kuliah yang begitu hebat menurut saya pada saat itu. Sejak saat itu mulailah tergambar di pikiran saya untuk kuliah. Namun di sisi lain, logika saya juga protes pada diri saya sendiri.

“Mana mungkin kamu bisa kuliah, lihat kondisi orangtuamu! Sadar diri saja! Memang siapa yang bisa membiayai kuliahmu? Dasar tidak tahu diri!”.

Pikiran seperti itu seolah membenamkan mimpi saya untuk bisa kuliah. Ah rasanya memang mustahil, memang takdir saya mungkin tak akan bisa kuliah. Sayapun merasa iri ketika melihat teman-teman saya dari keluarga yang mampu, mereka yang mulai terlihat mendaftar kuliah di sana-sini.
Di mana mereka berkumpul, maka mereka begitu asyiknya membicarakan rencana-rencana mereka tanpa beban. Sedangkan saya hanya bisa diam mendengarkan sambil menahan hangatnya mata saya yang mulai berkaca-kaca.

“Ah, Ya Allah apakah memang aku hanya bisa berharap semata? Andai orangtuaku bisa menguliahkanku.”  

Hingga saya sering berandai-andai yang terlalu jauh, namun saya sadar itu justru membuat saya semakin bersedih.

“Nak, apa kau benar-benar ingin kuliah? Bapak ibumu tak mampu membiayaimu, kami masih punya tanggungan biaya hidup yang masih banyak. Maafkan kami yang tak mampu mewujudkan keinginanmu”.

Mendengar kalimat itu keluar dari orangtua saya, rasanya lubuk hati saya benar-benar merasa bersalah karena mengutarakan cita-cita saya. Seringkali saya tidak bisa berkata lagi saat itu, hanya air mata yang mengalir tanpa tertahan di pipi. Mungkin pelukan orangtua saya yang akhirnya menenangkan hati saya.
Ternyata di mana ada niat di situlah ada jalan. Saya mulai mendengar informasi-informasi tentang adanya beasiswa, Bidikmisi namanya. Ya Allah, saat itu betapa riangnya hati ini mendengarnya. Seolah ada kesempatan bagi saya untuk kuliah. Sayapun mulai ikut mendaftar, walau syaratnya memang begitu banyak dan berat juga. Namun saya tetap berusaha, mungkin inilah jalan yang disediakan bagi saya untuk bisa seperti teman-teman saya. Tak hanya beasiswa, sayapun mencari-cari informasi tentang bimbingan belajar masuk perguruan tinggi yang diselenggarakan gratis.

“Masa hari gini ada bimbel gratis? Setau saya bimbel itu berbayar, dan itu pasti sangat mahal.”

Sayapun mendapatkan informasi dari saudara saya bahwa ada bimbingan belajar masuk PTN dengan tanpa biaya alias gratis. BPUN namanya. BPUN atau Bimbingan Pascaujian Nasional ini ternyata sudah ada di Kabupaten Pati sejak tahun 2011 dan dikenal sudah meloloskan para alumninya di banyak perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia.
Saya memutuskan untuk mendaftar dan syukur Alhamdulillah, lolos. Saya berhasil menyisihkan ratusan pendaftar lainnya yang punya misi sama yakni untuk berkuliah. Program bimbingan belajar saya jalani selama kurang lebih 1 bulan dengan intensif. Saya bangga bisa masuk seleksi BPUN Pati karena dikumpulkan dengan para pemuda pilihan se-Kabupaten Pati yang notabene berasal dari sekolah-sekolah favorit. Proses bimbingan saya jalani dengan penuh kesungguhan, dengan tetap mendaftarkan diri dalam program beasiswa yang diberikan oleh pemerintah, Bidikmisi.
Seleksipun saya ikuti, ternyata tidak mudah mengejar beasiswa Bidikmisi itu. Sungguh terlalu sangat banyak pemuda-pemudi seperti saya yang memperjuangkannya. Namun kuotanya yang tidak banyak, membuat hanya sebagian kecil dari para pendaftar yang lolos. Sayapun terus berjuang, berkali-kali problem mendera mulai dari administrasi hingga persyaratan yang sulit terasa semakin menciutkan nyali saya untuk tetap bertahan.

“Apakah memang mustahil bagi saya untuk bisa kuliah Ya Allah? Apakah perjuangan ini tak akan membuahkan hasil.”

Pertanyaan itu seringkali terbersit dalam lamunan saya. Hingga akhirnya senyum sayapun bisa merekah pelan, disambut dengan air mata kebahagiaan karena sebuah pengumuman yang menyatakan saya telah lolos. Betapa bahagianya saya pada saat itu. Saya akhirnya dinyatakan lolos masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur SBMPTN berbeasiswa. Ya, saya akhirnya menjadi seorang mahasiswa berbeasiswa. Mungkin dengan itu saya tidak akan memberatkan orangtua saya.
Saya dinyatakan diterima di Universitas Brawijaya, kampus favorit para pendaftar kuliah seantero negeri. Universitas Brawijaya memang dikenal sebagai kampus yang besar dan unggul. Kampus pemegang juara 5 kali PIMNAS ini tentu saja menawarkan banyak kesempatan kepada para mahasiswanya untuk berproses dan berkembang menjadi mahasiswa bermental pemimpin, berintergitas, dan berprestasi.
Saya kuliah tepatnya di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Fakultas yang punya konsentrasi studi di bidang maritim, perikanan, dan kelautan ini memang memiliki prospek karir yang sangat luas. Isu maritim memang membuat saya tertarik sejak dulu, oleh karenanya saya mengambil fokus studi ini. Banyak dari teman-teman saya yang belum tahu tentang definisi dan deskripsi bidang studi saya, hingga teman-teman saya sering bercandain saya dengan istilah ‘anak ikan’ karena kuliah saya yang tiap harinya belajar tentang ikan, laut, dan hal-hal yang tidak jauh dari keduanya.
Kuliahpun berlangsung, kadang saya seolah tak percaya bahwa saya telah kuliah. Bagaimana bisa seorang saya yang berasal dari keluarga buruh akhirnya bisa kuliah. Mungkin cita-cita dan keteguhan doa usaha membuat saya diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa kuliah. Serta doa orangtua saya yang penuh keajaiban telah membuat cita-cita saya dikabulkan Allah.
Seiring berjalannya perkuliahan, ternyata beasiswa yang diberikan pun tak mampu menutupi semua biaya kuliah saya. Terpaksa saya memenuhinya dengan berbagai pekerjaan, entah sambil berusaha berjualan makanan di kampus atau ikut mengajar hingga ‘menjual’ karya tulis saya untuk sekadar menyambung hidup.
Tak mungkin saya harus membebani orangtua saya di rumah, walau sesekali orangtua saya sering menawarkan bantuannya walau sedikit. Mereka merasa ingin membantu saya di balik kebutuhan mereka yang belum tentu juga sudah terpenuhi.
Satu dua kali pun saya terpaksa menerima pemberian mereka karena saya sudah tak punya bekal di kampus. Saat-saat seperti itu pun melahirkan janji di hati saya sendiri. Sering kali air mata ikut menetes saat mengucapkannya.

“Aku berjanji Bapak Ibu, aku akan membahagiakan kalian suatu saat nanti. Aku berjanji! Maafkan anakmu ini yang masih merepotkan.”

Semangat saya untuk kuliah mungkin lebih dibandingkan teman-teman saya yang lain. Walau banyak juga teman saya nonbeasiswa yang prestasinya lebih dari saya. Saya mulai berani bercita-cita lebih tinggi, walau cita-cita saya tak langsung berharap menjadi sosok yang akan mengubah negeri ini dengan seketika dari segala kekacauan yang ada. Namun dengan bisa kuliah, muncul harapan di hati saya.
Mungkin saya bisa mengubah kondisi perekonomian orangtua saya, itulah yang pertama terpikirkan di hati saya. Selanjutnya, semenjak kuliah sayapun jadi berani ikut memikirkan negeri ini. Mungkin ada hal yang bisa saya lakukan agar bisa bermanfaat untuk negeri Indonesia tercinta ini.
Saya selalu berusaha memenuhi kewajiban-kewajiban saya sebagai penerima beasiswa. Banyak kegiatan yang saya jalani selama menjadi mahasiswa berbeasiswa. Mulai dari aktivitas organisasi, aktivitas akademik seminar, pelatihan, dan berbagai ajang kompetisi ilmiah dan penalaran, seringkali sayalah yang pionir paling depan.
Kadang sayapun merasa lelah, belum lagi tugas-tugas kuliah yang harus saya kerjakan dengan baik demi menjaga indeks prestasi yang menjadi kewajiban saya pula. Namun dari itu semua, justru saya menjadi terbiasa membagi waktu dengan baik. Sayapun menjadi mahasiswa yang banyak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari berbagai kegiatan itu.
Sekadar memberikan inspirasi kepada para pemuda hebat lain di seluruh negeri pada umumnya dan di Kabupaten Pati pada khususnya, saya lampirkan sedikit pengalaman saya semenjak duduk di bangku perkuliahan.

Prestasi dan Penghargaan

  • Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) Terbaik 1 THP FPIK Universitas Brawijaya Tahun 2016 dalam Serologis Award 2016
  • Juara 1 Indonesia Maritime Challenge 2015 oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
  • Trofi Utama dan Medali Emas IMC 2015 oleh Gubernur Provinsi Jawa Timur Republik Indonesia
  • Pembicara Termuda dan Pemakalah Utama dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengembangan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Tahun 2016 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
  • Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Event of Young Researcher and Economics Student (EVEREST) 2016 oleh Universitas Sumatera Utara Medan
  • The Honorable Archipelago Excellent Award dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Archipelago Essay Competition (AEC) 2016 oleh Universitas Pattimura Ambon
  • Kangmas Duta Pariwisata Kabupaten Pati Tahun 2016 oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Pati
  • 10 Besar Finalis BEYOND (Brawijaya Entrepreneur Olympiad) Tahun 2016
  • Finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Tahun 2016
  • Finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional PESTAGAMA 2016 oleh Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
  • Finalis Kompetisi Nasional Dragon Boat Race Tahun 2016 oleh Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
  • Delegasi Kabupaten Pati dalam Pelatihan Budidaya Lele se-Jawa Tengah Tahun 2016 oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah
  • Pembicara Utama dalam Seminar dan Bedah Karya City Branding Kabupaten Pati Tahun 2016
  • Partisipant ASEAN Young Engineers and Scientists (YES) Summit 2016
  • Asisten Praktikum dan Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan Universitas Brawijaya 2015-2016
  • Youth Ambassador Pelabuhan Indonesia 2015 oleh PELINDO III (Persero)
  • Best Delegate Universitas Brawijaya dalam PELINDO III Youth Camp Tahun 2015
  • Best Delegate Universitas Brawijaya dalam INOTEK Innovator Forum Tahun 2015 oleh MITI Indonesia
  • Best Delegate Jawa Timur dalam Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Sumberdaya Republik Indonesia
  • Best Participant dalam Simposium Nasional Pengelolaan Hiu dan Pari di Indonesia 2015 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan WWF Indonesia
  • Internship Program Balai Besar Penangkapan Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Ministry Tahun 2015
  • Participant YSEALI Green Education Initiatives Biomarine Student Camp 2015 oleh Young Southeast Asian Leaders Initiative
  • Participant Indonesian Youth Dream 2015 oleh IYD Yogyakarta
  • Participant Borobudur Youth Forum 2015 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
  • Participant Indonesian Youth Team on Climate Change (IYTCC) Climate Change Workshop Tahun 2015
  • Delegasi Kota Malang dalam Jambore Pelajar se-Jawa Timur Tahun 2015 oleh CBP KPP Jawa Timur
  • Juri Kompetisi Menulis Esai dalam BPUN High School Fair Tahun 2015 oleh MAS BPUN Kabupeten Pati dan Mata Air Foundation Indonesia
  • Liaison Officer dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Gebyar Mahasiswa Perikanan Indonesia (GEMINI) Tahun 2015 oleh HIMATHRIK Universitas Brawijaya
  • Orator dalam Malang Fish Campaign ‘GEMARIKAN’ dalam Hari Ikan Nasional Tahun 2015 oleh HIMATHRIK Universitas Brawijaya
  • Pembicara Utama dalam BPUN Campus Expo 2014 oleh MAS BPUN Kabupaten Pati dan Mata Air Foundation Indonesia
  • Pembicara Utama dalam Talkshow Pendidikan Kota Malang Tahun 2014 oleh Universitas Ma Chung Malang
  • Koordinator Pendamping Samantha Krida RAJA Brawijaya Tahun 2014 oleh EM Universitas Brawijaya
  • Mahasiswa THP FPIK Universitas Brawijaya dengan IPK Cumlaude 4.00 Tahun 2014
  • Penerima Program Beasiswa Bidikmisi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia pada Tahun 2013-2017
  • Alumni BPUN Kabupaten Pati Tahun 2013

Organisasi dan Aktivitas

  • Founder and Copywrite and Strategic Planner Komunitas Bolo Pragolo Pati (2016-sekarang)
  • Inisiator and Copyright City Branding Kabupaten Pati ‘The Crown of Java’ (2016-sekarang)
  • Paguyuban Kangmas Mbakyu Duta Pariwisata Kabupaten Pati (2016-sekarang)
  • Redirect Indonesia di bawah UN MGCY (United Nation Major Group of Children and Youth) (2015-sekarang)
  • Youth Educator and Entrepreneur (YEE) Indonesia (2015-sekarang)
  • Racana Brawijaya Universitas Brawijaya (2015-sekarang)
  • PELINDO III Youth Camp Chapter Malang (2015-sekarang)
  • Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan (HIMATHRIK) Universitas Brawijaya (2015-2016)
  • BEM Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (2014-2016)
  • Pengajar dan Pengurus Brawijaya Mengajar (2014-2016)
  • Komunitas Malang Mengajar (2014-2016)
  • Founder and Director of Indonesian Education Forum (2013-now)
  • Majelis Alumni Sanlat dan BPUN Kabupaten Pati se-Indonesia (2013-sekarang)
  • Ikatan Keluarga Mahasiswa Pati (IKMP) Malang Raya (2013-sekarang)
  • Sekolah Kebangsaan Brawijaya (2013-sekarang)
  • Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (2013-2014)

Riset, Paper, dan Publikasi

  • KOPERASI TRIMO SB (Sendang Biru Modern Industrial and Education Cooperative): Optimizing the Role of Fisheries Cooperatives in Marine Products Processing Management, Environmental, and Coastal Edutourism in Sendang Biru Malang Regency Able to Compete in ASEAN Economic Community 2017
  • TEMAN HITS: Integration of Marine Natural History Gili Island at Gresik Regency
  • Processing of Shrimp Stick (Litopenaeus vannamei) Based on Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) and Good Manufacturing Practice (GMP) Application to Produce High Protein Food for People
  • Integration of Marine Natural History by Local Fisherman of Gili Noko Island
  • Processing of Abon, Meatball, and Fish Crackers from Milk Fish (Chanos chanos) at UD. Amanah, Bajomulyo, Juwana, Pati Regency, Central Java
  • Application of Technical Laboratory on Mangrove Ecotourism: Case Study at Bedul, Sumberasri, Purwoharjo, Banyuwangi
  • Application of Technical Laboratory as a Means of Coral Reef Ecotourism Rehabilitation at Bangsring, Wongsorejo, Banyuwangi
  • Waste Minimization from Tourists: Garbage Minimarket Application at the Tourism Spot as a Means of Education and Economic Enhancing for Local Commuinities (Case Study at Bangsring and Boom Beach, Banyuwangi)
  • Sociopreneurship: SABS (Sekolah Alam Bengawan Solo) at Klaten Central Java with Yayasan Rumah Peneleh
  • Hydrothermal Vent as New Alternative Energy Resource to be Electrical Power Plant in Reducing Crude Oil or Coal Using to Fight Against Global Warming
  • SAKURA (Snackbar Benalu Antikanker Payudara) as Healthy Snack to Prevent Breast Cancer
  • Santri Entrepreneurial Self-Based Fisheries to Increase Maritime Economic Sectors: Case Study at PP. Ashabul Kahfi Malang
  • Effects of Addition of Carrageenan from Seaweed (Eucheuma cotttoni) into Tuna (Thunnus thunnus) Nugget

Itulah sedikit cerita tentang saya, mahasiswa yang bisa mengenyam perkuliahan karena mendapatkan beasiswa. Dari cerita singkat itu, sayapun mengerti bahwa di balik segala keterbatasan yang ada, tenyata Allah memberikan jalan kepada hamba-Nya.
Ya, setiap orang punya harapan. Setiap orang punya kesempatan, dan yang jelas setiap orang berhak bermimpi. Maka bagimu yang sedang berjuang, beranilah bermimipi. Karena dengan bermimpi, kamu menjadi hidup dalam hidupmu.

*Mohammad Ainurrofiqin, Alumni BPUN Kabupaten Pati Tahun 2013

Sekisah Pengalaman di Negeri Ginseng

Oleh : Ahmad Zammir Ribah (Sanlat BPUN Pati 2012)


Halo, perkenalkan saya Ahmad Zammir Ribah, bisa dipanggil Zammir, Sanlat/BPUN Mata Air Pati 2012. Tahun ini merupakan tahun terakhir saya kuliah di program studi Aeronotika dan Astronotika, Institut Teknologi Bandung.
Pada akhir Agustus lalu, saya berkesempatan mengikuti International Student Capstone Design Project 2016 dan International Student Multidisciplinary Design Camp: TRIZ Contest di Korea Selatan selama enam hari.
Cerita berawal pada Februari 2016 ketika saya mengikuti kompetisi International Student Capstone Design Project 2016. Kompetisi ini diikuti oleh berbagai mahasiswa dari multidisiplin ilmu dan multinegara dalam satu tim untuk bekerja sama mengerjakan suatu proyek pembuatan prototype produk teknologi sesuai tema yang telah ditentukan. Partisipan berasal dari lima negara, yaitu Indonesia yang diwakili oleh mahasiswa ITB, Singapura oleh mahasiswa NTU, Taiwan oleh mahasiswa Tunghai University, Malaysia oleh mahasiswa UKM, dan Korea Selatan oleh mahasiswa dari berbagai universitas yang tergabung dalam Hub Invation Center for Engineering Education-CBNU.
Pertemuan awal dan pembagian tim dilakukan pada bulan Februari 2016 di Langkawi, Malaysia. Pada pertemuan awal ini, kami diminta untuk mengajukan sebuah ide untuk kemudian dipresentasikan ke pihak penyelenggara. Selanjutnya, ide ini akan diwujudkan menjadi sebuah produk prototype. Setelah pertemuan awal, semua partisipan pulang ke negara masing-masing dan melaksanakan pembuatan produk prototype dari ide yang telah dipresentasikan. Waktu pengerjaan prototype adalah delapan bulan dengan dua kali progress report melalui video teleconference. Setelah tenggat waktu pembuatan selesai, seluruh tim mengikuti presentasi final di Kota Incheon, Korea Selatan pada akhir Agustus 2016.
Saya tergabung dalam tim Global Team-03 yang terdiri dari 3 mahasiswa ITB dan 3 mahasiswa dari Jeju National University (JNU). Masing-masing anggota memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. Saya berlatar prodi kedirgantaraan, dua teman saya dari ITB merupakan mahasiswa program studi Fisika Teknik dan Arsitektur. Lalu, tiga teman dari JNU berasal dari program studi Computer Engineering. Berdasarkan perbedaan latar belakang pendidikan tersebut, kompetisi ini menuntut masing-masing anggota agar saling berkolaborasi membentuk tim yang solid.
Berbagai tantangan harus kami hadapi selama mengikuti kompetisi ini, salah satunya masalah komunikasi. Berhubung tim kami beda negara maka komunikasi merupakan hal yang mutlak diperlukan agar masing-masing anggota selalu terhubung untuk berkoordinasi.
Kompetisi ini memberikan pengalaman bagi saya dalam membangun sebuah kerjasama yang tingkatannya lebih advance dari sekedar kerjasama kelompok yang biasa dilakukan di kampus. Berhubung saya dijadikan team leader, hal ini menjadi pekerjaan yang cukup berat karena saya menjadi penghubung masing-masing anggota untuk berkomunikasi.
Tenggat waktu delapan bulan untuk membuat prototype merupakan proses terberat dalam kompetisi ini, baik bagi satu tim maupun bagi masing-masing individu. Hal ini dikarenakan saya dan teman saya dari ITB sedang berada di tingkat akhir sehingga harus berbagi waktu juga untuk mengerjakan skripsi/tugas akhir. Pada masa inilah, saya merasa dilema. Di satu sisi, saya harus menyelesaikan tugas akhir, sedangkan di sisi yang lain saya adalah team leader yang bertanggung jawab untuk memimpin dan mengatur tim agar berhasil mengerjakan tugas kompetisi dengan baik. Berbagai keputusan berisiko saya ambil, sampai-sampai saya memutuskan untuk menunda kelulusan saya demi fokus ke kompetisi ini.
Selain itu, cobaan lain pun menghampiri ketika mengerjakan prototype. Produk yang kami buat mempunyai kerusakan di sub-sistem ketika melakukan proses trial & error, bahkan beberapa kali terjadi ledakan kecil. Komponen yang ada sebenarnya sudah rusak dan ketika mencari barang pengganti komponen tersebut sangat susah dicari dalam sehari. Apalagi komponen yang rusak itu harganya cukup mahal. Kami sempat diancam tidak diberangkatkan ke Korea Selatan untuk presentasi final sehingga pada hari terakhir sebelum keberangkatan kami pasrah dimarahi dosen-dosen pembimbing kami karena tidak memenuhi target penyelesaian produk. Saya sendiri sangat malu, mungkin teman satu tim saya yang lain juga. Lebih malu lagi karena kami satu-satunya tim yang produknya gagal bekerja.
Namun, takdir berkata lain. Kami satu tim akhirnya berangkat ke Korea Selatan. Mungkin bagi sebagian orang ini menyenangkan, tetapi saya sendiri masih merasa kurang percaya diri, sedih, dan malu. Rasa ini semakin memuncak ketika presentasi final sehingga produk kami dan tim kami berakhir dengan hasil yang sangat tidak memuaskan dibanding tim Indonesia yang lain.
Salah satu hal yang saya syukuri adalah saya berada di tim yang selalu saling support dan punya keinginan untuk bangkit walaupun seringkali terjadi konflik. Teman satu tim dari Korea selalu menghibur dan memberikan semangat kepada saya dan semua anggota tim sehingga kami tidak terlalu down dan minder.Kami bertekad pulang ke Indonesia tidak dengan “tangan kosong” karena masih ada tiga hari lagi di Korea dan masih ada satu lagi kompetisi yang belum diselesaikan. Oleh karena itu, kami berusaha proaktif dalam setiap ada kuliah umum di sana dan challenge yang diberikan.
Usai kompetisi yang pertama, ada satu lagi kompetisi yang kami ikuti, yaitu International Student Multidisciplinary Design Camp: TRIZ Contest. Kompetisi ini merupakan kompetisi yang memberikan tantangan kepada peserta untuk melakukan improvement design suatu produk teknologi yang sudah ada di pasar menggunakan metode TRIZ. Metode ini dikembangkanoleh orang Rusia yang sekarang banyak  digunakan oleh perusahaan teknologi di Korea, contohnya Samsung.
Jika pada kompetisi sebelumnya kami diberi waktu delapan bulan, maka untuk TRIZ contest ini diberikan waktu hanya satu hari. Kami diminta untuk membuat prototype design hasil improvement design dengan material yang sudah disediakan panitia. Kemudian, esok harinya presentasi hasil dari produk yang sudah jadi prototype-nya dan demonstrasi fungsi produk.
Alhamdulillah, akhirnya tim kami benar-benar tidak pulang dengan tangan kosong. Kami medapatkan Silver Prize untuk kompetisi ini. Tentunya kami bersyukur, setidaknya rasa malu dan minder kami pada kompetisi sebelumnya sedikit berkurang dengan adanya hasil ini.
Setelah TRIZ Contest selesai, semua partisipan akhirnya diberi kesempatan oleh penyelenggara untuk menjelajahi Seoul, ibukota Korea Selatan. Tentunya kami senang sekali karena selama di kompetisi ini kami berada di Incheon yang tidak terlalu ramai dan agak terpencil. Memanfaatkan  waktu yang masih tersisa, kami mengunjungi berbagai landmark Kota Seoul yang terkenal seperti Gyeongbokgung Palace, Bukchon Hanok Village, Myeong-Dong Street, dan sebagainya.

Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti kompetisi yang besar ini di tahun terakhir saya di ITB. Walaupun risikonya membuat saya jadi mundur lulusnya, tetapi pengalaman dan motivasi yang saya dapatkan sangat luar biasa. Pengalaman luar biasa ketika bisa berjuang bersama dalam satu tim dari berbagai disiplin ilmu dan multi negara yang berisi mahasiswa berprestasi di tiap jurusan mereka, membuat saya juga termotivasi untuk selalu mengejar prestasi. Selain itu juga pengalaman dimarah-marahi dosen sampai diancam, dan tentunya pengalaman dalam mengambil keputusan yang sulit. Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya.
Harapan saya, melalui cerita ini, teman-teman dapat termotivasi untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah sehingga selalu bersemangat dalam berkarya dan berprestasi. (A Zammir R/Vonny L.S)